April 27, 2015

Day 8 - Malam Terakhir di Jepang

Sabtu, 18 April 2015.

Apa salah satu faktor yang menyebabkan Mikado Hotel ini murah meriah? Karena kamar mandi dan toiletnya sharing alias tidak ada male dan female bathroom yang dipisahkan seperti biasa. Tapi, tidak perlu khawatir, setiap pengunjung di sini saling menjaga privasi masing-masing sehingga saya pun selalu merasa aman. Setelah mandi, kami langsung bergegas menuju Osaka Station. Saat itu belum pukul 8 pagi, sementara bis yang akan mengantar kami ke Tokyo berangkat pukul 10 pagi. Lebih baik datang lebih awal daripada terlambat deh :) Sakitnya tuh disini *nunjuk dompet* haha.

Kami membeli roti dan susu di Family Mart lalu menunggu di waiting room bis. Di sana kami ketemu sama orang Indonesia yang sudah bekerja di Osaka selama 12 tahun. Wow, katanya betah di sana males pulang hehehe. Kurang dari 10 menit menjelang waktu berangkat, bis telah tiba. JR Bus ini dua tingkat gitu mirip double decker, kami pun langsung duduk sesuai urutan di tiket. Sisi menyenangkan dari naik bis siang hari adalah bisa melihat pemandangan. Beda sama bis malam yang memang dikondisikan hanya untuk tidur jadi jendela ditutup rapat dengan tirai.

Perjalanan menghabiskan waktu 9 jam sampai ke Tokyo Station dengan berhenti sementara di rest area sebanyak tiga kali. Masalahnya adalah saat itu sangat dingin, kalau dingin berarti lapar. Tapi lapar tak ada uang. Ya itu, kami nggak punya cash money karena belum menemukan 7 Eleven hahaha. Akhirnya, kami cuma turun di rest area dan clingak clinguk menelan ludah melihat makanan yang enak-enak dan souvenir yang lucu-lucu. Uang receh kami cuma cukup membeli mochi dengan harga 300 Yen untuk berdua haha. Sementara itu, penumpang di depan kami selalu membeli makanan dengan aroma yang menggoda irama perut. Suami saya cuma bisa kasih puk puk dan kami pun tertawa konyol. Begitulah seninya berpetualang :p

April 26, 2015

Day 7 - Masih di Osaka :)

Jumat, 17 April 2015.

Masih hari yang sepi. Oh, Nagai sepi sekali di sini. Rasanya ingin bergegas check out dari hostel. Setelah mandi dan sarapan, kami pun kembali melanjutkan petualangan tanpa ingin mengingat Nagai Youth Hostel ini lagi haha. Kualitasnya beda jauh sama Utano Youth Hostel ditambah kejadian malamnya yang menghadiahkan kami cerita lucu untuk dikenang :))))))

Selamat tinggal, Nagai :)
Masih ada satu sumber adrenalin lagi. Rencananya, kami akan pulang ke Tokyo malam ini dan naik bis malam (supaya bisa menghemat biaya penginapan gitu). Tapiiiii Willer Bus untuk semua kelas full booked dong. Mau coba transit di Nagoya juga penuh. Saya nggak bisa tenang sebelum dapat kepastian tentang bis. Kami terus mencoba googling alternatif bis yang lain, tapi websitenya tulisan Jepang semua. Sampai akhirnya kami mendarat di website yang menyebutkan nomor telpon bis antar kota dari JR, dan yang paling penting ada keterangan English spoken. So, there is a hope! Jika tidak, alternatif terakhir yang kami punya hanyalah naik shinkansen yang mahal banget itu, huks.

Kami kembali ke Shin-Osaka Station dan transit di Umeda Station. Kami mencari telpon umum dan menghubungi call center JR Bus. Jadi intinya, tidak bisa dilakukan pemesanan melalui telpon, tapi kami diarahkan untuk datang ke Bus Center di Osaka Station. Baiklah, kami pun langsung meluncur ke Osaka Station, mencari loket pemesanan bis JR, dan.... memang bis untuk malam ini sudah penuh. Kami memutuskan untuk ke Tokyo esok paginya dan alhamdulillah masih dapat kursi. Ya Allah, rasanya tenaaaang banget. Dan itu artinya, kami akan berada di Osaka satu malam lagi :p

April 25, 2015

Day 6 - Ninnaji Temple dan Nagai

Kamis, 16 April 2015

Bangun pagi yang sangat segar! Saya pikir saya tidak akan bisa tidur tetapi ternyata saya sudah terlelap pulas pada pukul 10 malam. Udara dingin musim semi menyeruak, mandi, ketemu suami lagi (hore!), membereskan laundry, lalu sarapan dengan menu yang sudah kami pesan dari hostel, yakni Japanese Breakfast: lengkap dengan ikan, tofu, sup, telur, nasi, ubi manis, dan teh hangat. Selanjutnya, kami bersiap-siap untuk check out dan mengumpulkan selimut dan seprai yang sudah kami gunakan ke meja resepsionis. Saya berpamitan dengan Catherine, teman sekamar saya. Dia akan ke Gunung Fuji dan saya akan ke Osaka. Sebelum meninggalkan hostel, kami berencana untuk berkeliling Kyoto dulu dan mencicipi es krim kacang merah yang dijual di hostel, nyam!

Japanese Breakfast
Es kacang merah yang nagih :9
Utano hostel sangaaaat menyenangkan, kurang lama rasanya berada di Kyoto (karena tragedi ketinggalan bis itu hehe). Awalnya, saya pingin dan harus banget berkunjung ke Arashiyama Park, yakni objek wisata hutan bambu yang sangat magis itu. Tapi Arashiyama cukup jauh dari Utano dan kami khawatir terlalu malam tiba di Osaka. Akhirnya, kami memilih untuk berkunjung ke salah satu kuil yang ada di Kyoto. Kalau kita naik bis dari Utano ke Kyoto Station maka di sepanjang jalan akan banyak sekali dijumpai kuil-kuil yang bagus dan dipenuhi turis.

April 24, 2015

Day 5 - Kyoto: Utano dan Gion

Rabu, 15 April 2015

Finally, tiba di Kyoto! Walaupun 1 hari lebih lama dari itinerary yang saya jadwalkan, tapi udah bersyukur banget bisa menginjakkan kaki disini juga. Apalagi kalau ingat perjuangannya haha. Stasiun Kyoto sangat besar dan cantiiiik. Banyak sekali wajah-wajah turis disini. Karena saya sudah memesan hostel via hostelworld maka kami akan langsung menuju ke hostel. Dengan bantuan google maps, kami bisa mengetahui naik bis apa saja dan kereta apa saja untuk menuju kesana, plus ongkosnya! Oh, google maps, dikau keren sekaliiiii.

Hostel kami berlokasi di daerah Utano, naik bis 45 menit dari stasiun dengan biaya 230 Yen saja. Kartu Suica yang dipinjamkan mbak Dina selain bisa digunakan untuk naik kereta, bisa juga dipakai untuk naik bis, beli minuman dan makanan di vending machine, tarik tunai di atm, dan bayar di convenience store. Sangat berguna! Kartu Suica bergambar pinguin ini bisa dibeli dengan harga 2000 Yen.

Hostel yang kami pesan hanya berjarak 50 meter dari Utano Youth Hostel bus stop. Suasana disini sangat berbeda dengan Tokyo. Sepiiiii, terlihat ada pegunungan di belakangnya, sangat tenang. Rumah-rumah berjajar rapi dengan taman-taman yang dihias sangat cantik. Orang Jepang memang suka kerapian yaa :)

Penginapan di Jepang sebagian besar (terutama hostel) membuka check in pada pukul 3 sore, sehingga kami menghabiskan waktu di common room saja. Mulai pukul 10 sampai 3 sore hostel akan dibersihkan, mulai dari toilet sampai seluruh kamar. Tepat pukul 10 para petugas kebersihan berkumpul, mengatur strategi, dan mulai bersih-bersih. Ya ampun total banget bersih-bersihnya, orang Jepang memang sangat total dan perfeksionis :) Yang saya amati, sebagian besar petugas kebersihan disini didominasi oleh orang-orang tua, kakek dan nenek yang masih saja gesit bekerja. Luar biasa. Ohiya, saya tergila-gila dengan smart toilet di Jepang, sangat bersih, kering, bebas bau, dan hi-tech karena dijalankan dengan tombol-tombol dan sensor pintar.

Suasana hostel ini sangaaaat menyenangkan, bersih, dan dengan biaya yang sangat affordable, I totally recommend this hostel! Ada musik klasik mengalun di common room sampai ke toilet hostel, tenang sekali. Kami boleh menitipkan barang dulu di locker, dan karena kami belum boleh masuk kamar, maka kami meminta izin untuk sholat di hostel. Karyawan-karyawan hostel sangat mahir berbahasa Inggris, dan mereka mempersilakan kami sholat dimanapun. Kami memilih sholat di dapur karena saat itu sedang tidak ada orang :b

April 23, 2015

Day 4 - Shin-Obuke, Harajuku, Shibuya, dan Ikebukuro

Selasa, 14 April 2015

Jadi setelah peristiwa kejar-kejaran terminal bis tadi malam, kami berniat untuk mencari terminal bis Willer Express yang akan berangkat pukul 10 pagi. Setelah mandi air hangat, nelpon ke rumah via whatsapp call pakai wi-fi hotel hihi, dan check out, maka kami bergegas untuk kembali ke terminal bis di stasiun Sinjuku yang telah kami datangi tadi malam. Sarapan pagi ini sangat kreatif, yakni kebab Turki yang kami beli malamnya dan dihangatkan suami dengan hair drier :b

Hanya butuh 10 menit untuk kembali ke terminal bis, lalu kami mengkonfirmasi kedatangan bis pada petugas... dan tidak ada petugas yang tahu tentang jadwal bis pukul 10 pagi itu. Kami menanyakan lagi tentang lokasi Sumitomo Building yang notabene merupakan lokasi gedung pemerintahan di Tokyo, semua pegawai menggunakan jas hitam dan kemeja putih - dan ternyata lokasinya masih jauh. Artinya, kami pun harus berlari lagi.

Saya udah lemes dong, takut kejadian tadi malam terulang lagi. Apalagi sambil membawa tas ransel dan dengan celana panjang yang kebesaran - serius baru sekian hari saya udah turun 2 kilo, saya jadi kesusahan untuk mengejar suami saya yang lari lebih dulu. Kami bertanya pada beberapa orang, dan jawaban yang diberikan berbeda-beda. Akhirnya kami harus menyeberang, kembali lagi, belok kanan, kiri, sampai saya nggak kuat....... ketinggalan suami saya dong yang udah duluan huhu. Saya jalan sendirian (membayangkan tersesat di negeri orang), menunggu lampu merah untuk menyeberang, berjalan gontai, dan memutuskan untuk bertanya pada seorang petugas kebersihan, dan dia memberikan arah yang benar. Bangunan yang saya maksud tepat ada di seberang saya.

Sudah pukul 10. Harapan saya saat itu cuma satu, ketemu sama suami saya. Apalagi kami tidak bisa menghubungi satu sama lain, paket data saya non aktif, dan pocket wifi dibawa sama suami haha. Dan, bener, suami saya udah nunggu berdiri di lampu merah. "Maaf, bisnya nggak terkejar. Aku sampai disana bisnya pergi". Langsung dong saya jalan sambil nangis, haha beneran nangis, antara capek dan kesel kali ya. Dan, kami memutuskan untuk datang ke terminal bis itu (lokasinya masuk ke dalam Sumitomo building dan turun dengan eskalator, ga nyangka ada disini), mengganti jadwal keberangkatan untuk malamnya, tapi di stasiun yang berbeda, bukan di Sinjuku. Kali ini tidak boleh gagal lagi.

Kami duduk lama di terminal itu, dan memilih untuk mengelilingi Tokyo lagi. Setelah perasaan saya membaik, kami pun kembali berjalan-jalan haha, ya ampun saya bocah banget. Kami kembali ke Stasiun Sinjuku (stasiun ini adalah salah satu stasiun tersibuk di dunia), menitipkan tas di locker, dan here we go again. Bismillah!

April 22, 2015

Day 3 - Fujiko F. Fujio Museum dan Asakusa

Senin, 13 April 2015

Pertama kali bermalam di Jepang, kami tidur dengan penghangat, kaus kaki, dan selimut tapi masih kedinginan hihi. Agenda hari ini adalah ke Fujiko F. Fujio Museum yang buka pukul 10 pagi. Mbak Dina sudah memesankan tiket masuk museum sejak jauh-jauh hari karena bisa kehabisan. Harga tiket adalah 1000 Yen per orang dengan waktu masuk sebanyak 4 kali yakni pukul 10, 12, 14 dan 16. Awalnya saya ingin sekali main ke Ghibli Museum, tapi sudah sold out........... dan mbak Dina merekomendasikan museum ini. Main ke kampung Doraemon, nggak lengkap juga rasanya nggak ketemu Doraemon hihi ;)

Dari rumah kami berangkat pukul 08.30, kami berjalan ke stasiun Bubaigawara dengan waktu tempuh 20 menit, cukup jauh. Kami membeli sarapan berupa sandwich tuna dan telur. Orang-orang dengan jas dan kemeja rapi, bersepeda dan berjalan dengan cepat, dan semuanya membawa payung. Kata mbak Dina hari ini akan hujan. Orang Jepang selalu membaca ramalan cuaca untuk keesokan harinya. Saya baru tahu juga, ada semacam peraturan di Jepang yang mengharuskan masyarakat untuk membawa payung saat hujan, karena jika tidak maka orang tersebut dianggap tidak bertanggung jawab pada diri sendiri, dan orang Jepang juga tidak suka berdekatan dengan yang bajunya basah. Maka, kami membeli payung transparan di convenience store stasiun. Benar saja, hujan turun dari pagi sampai malam. Kami turun di stasiun Noburito dan tiba sebelum pukul 10. Disana sudah ada bis doraemon yang menunggu, kami pun bergegas naik.


Setiba di museum, kami menitipkan payung, mengantri, dan masuk perlahan lalu mendapatkan audio guide sebagai panduan selama di museum dalam bahasa Inggris. Ruang pertama yang kami masuki adalah exhibition room. Disana disajikan karya-karya otentik Fujiko F. Fujio, peralatan menggambarnya, dan deskripsi tentang tokoh-tokoh komik karya beliau. Di ruang selanjutnya terdapat riwayat hidup Fujiko F. Fujio dan tiruan ruang kerjanya. Namun, di exhibition room tidak diperkenankan untuk memotret untuk menjaga barang-barang yang dipamerkan agar tidak cepat rusak.