June 19, 2015

The Laws of Productivity

Our rational minds know that we have to finish our assignments, house chores, or any activity that needs commitment, but the monkey minds ask the rational minds to play in the comfort zones, such as - checking Facebook, watching TV series, having depressing naps, or any guilty pleasure that seems so good to do except those assignments. Welcome, procrastination! And that's what I learn during this semester - that moment when looking back to your thesis is just too difficult. AND EVERYTHING OH MY GOD IS MUCH EXTRAORDINARY FUN!

Procrastination is human nature. Sometimes you just have intuition not to do it today, and follow the mood, do it tomorrow. Tomorrow becomes the day after, and so on. And, later becomes never - until the deadline hunts!

That behavior can be linked to popular physics principle: Newton's laws.

First Law of Motion: An object either remains at rest or continues to move at a constant velocity, unless acted upon by an external force. 

It means objects in motion tend to stay in motion, and objects at rest tend to stay at rest. So, it relates to procrastination. If we keep moving and get started to keep going, congratulation! We're gonna have productive day. But, if we start the day with laziness, we will just be trapped in lazy day, body seems going to sleep all day. And it's true!

So, besides get started, what do I do to help myself from procrastinating?

June 18, 2015

Ramadhan yang Berbeda

Alhamdulillah. Marhaban ya Ramadhan.

Ramadhan kali ini berbeda karena ini Ramadhan pertama saya sebagai seorang istri. Setelah tahun lalu saya selalu diliputi oleh rasa galau, rasa itu kini telah berganti menjadi haru dan syukur atas nikmat yang luar biasa ini. Mungkin tidak terlalu berbeda dengan hari biasanya, saya punya tanggung jawab untuk merencanakan dan menyiapkan menu makanan yang selalu saya tulis di kertas kecil sebelum saya berbelanja. Karena ini Ramadhan, maka tantangannya adalah saya harus merencanakan menu sahur dan berbuka selama sebulan, bangun lebih awal dan membangunkan suami sahur (yang dulu hanya bisa saya lakukan lewat telpon), dan tidak boleh malas-malasan sepanjang hari hihi. Insya Allah bernilai ibadah. Waktu jadi anak kos, saya sering nggak peduli mau makan apa sahur dan buka. Dan seperti anak kecil yang baru belajar jalan atau naik sepeda, saya juga seperti itu. Lagi senang-senangnya buat kolak untuk pertama kali, bikin es dawet sendiri, atau masak apapun. Pujian dari suami, badan sehat, rasa lezat - adalah priceless :)

Ramadhan juga menjadi menyenangkan saat saya punya tetangga-tetangga yang umurnya sebaya untuk teman bertukar cerita dan makanan berbuka. Tapi, sayangnya, mereka pun sebentar lagi akan pindah karena mutasi dan keadaan. Selain itu, semester ini hanya saya habiskan untuk mengerjakan skripsi sehingga saya punya waktu banyak untuk di rumah. Karena saya dan suami masih berdua saja maka kami masih komitmen untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Aktivitas dan tugas rumah tangga kami lakukan berdua, misalnya dia jadi Menteri Luar Negeri dan saya Menteri Dalam Negeri, bersih-bersih bagian halaman adalah tugas suami dan saya bersih-bersih bagian dalam. Rasanya puas aja bisa mengerjakan semuanya sendiri, saya merasa tangguh dan bermanfaat. Perasaan ini yang selalu harus saya jaga :)

Pernikahan juga membuat saya belajar untuk punya target Ramadhan, sesuatu yang dulu sering saya abaikan. Saya punya imam yang bisa memimpin saya beribadah. Mungkin hal itu jauh lebih berharga daripada khayalan saya yang selalu merasa kehilangan banyak moment dan meninggalkan kegiatan-kegiatan yang tidak lagi saya ikuti secara nyata. Karena pada dasarnya, pernikahan tidak mencuri kebebasan saya sedikit pun, pada batas-batas yang diatur karena ridho Allah terletak pada suami saya. Suami saya memberikan kebebasan yang banyak untuk saya terus belajar dan mencapai apa yang saya mau, menjadi pengajar, ikut komunitas, dan menikmati waktu dengan diri sendiri. Suami saya selalu menanyakan apakah saya bosan, apa yang saya mau. Dan, itu membuat saya mengharu biru karena saya merasa sangat sangat sangat disayang :)

Akhir-akhir ini saya merasa menjadi pribadi yang sangat tertutup (selain di blog, hehe). Saya lebih banyak menjadi silent reader dan lebih sering mengabaikan media sosial. Tentu saja saya sering iri dengan teman-teman yang punya banyak kegiatan, tapi entahlah saya pun tidak punya langkah yang kuat untuk merealisasikannya. Pragmatis. Semoga fase ini tidak berlangsung lama. Dan, saya lagi senang-senangnya jalan-jalan. Oh ya, saya juga banyak menelpon mama dan abah. Lebaran kali ini saya tidak akan bertemu mereka, karena harus ke kampung suami dan berlebaran dengan orang tua kedua saya :)

Semoga Ramadhan ini menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Syukur yang lebih baik. Doa-doa diijabah. Air mata tidak sia-sia. Dan, tidak selalu merasa sedih atau sendiri. Karena Allah ada. Selamat datang saya yang baru :)

June 14, 2015

Patahan #85

Keep moving. Don't complain others because you can't. Just complain to yourself because you stop. Nobody really cares about you except yourself.

I have free will. Nothing really changes until I make changes. Allah loves you because you have tried. Allah cares to you because you care to your own life.

Do the best, and Allah do the rests.

June 7, 2015

Terampil Mendengar

"Don't judge" 
Sepertinya kita semua sedang sama-sama berjuang untuk keluar dari tekanan sosial dan meneriakkan tindakan untuk  tidak menghakimi dan tidak dihakimi. Tapi, menurut saya, perspektif setiap orang adalah satu hal yang paling berbeda di dunia ini, demikian pula dengan perspektif terhadap orang lain. Mengubah orang lain adalah hal mustahil, maka saya akan mengubah diri sendiri dengan memilih apa yang perlu saya dengarkan.
***

Mendengar versus mendengarkan.

Setiap hari, kita dibebani dengan peran baru dalam hidup secara sosial, entah menjadi murid, menjadi pengajar, menjadi karyawan, menjadi pengusaha, menjadi pelayan, menjadi pedagang, menjadi pemimpin, menjadi istri, menjadi ibu, dan seterusnya. Sudah cukup banyak energi yang kita keluarkan untuk tampil dengan baik pada peran-peran tersebut. Jadi, jangan sampai kebahagiaan dan syukur kita terkuras karena komentar orang lain selama hal itu juga tidak merugikan orang lain.

June 3, 2015

Menjadi Pendiam

"Kalian kalau pacaran gimana ngobrolnya, soalnya sama-sama pendiam"

Jadi itu pernyataan pertama yang muncul dari keluarga waktu kami memperkenalkan diri dan berniat untuk menikah. Dalam hati saya, belum tahu aja kali ya, kalau ketemu kami berdua sama-sama error. Artinya, sisi dari diri saya yang tidak pernah saya perlihatkan ke orang lain, begitu juga dengan dia, cuma kami berdua yang tahu.

"Mereka kalau ngomong pasti bisik-bisik"

LOL. Pernyataan yang keluar beda lagi setelah menikah, masa iya ngomong mau teriak-teriak, dalam hati saya.

"Biasa, ngomongin bisnis"

Saya cuma bisa nge-les misterius begitu. Mau tau aja atau mau tau banget, hihi. Itu cuma satu sisi kisah seseorang yang secara historis dikenal pendiam lho. Nggak bisa disalahkan juga sih, karena masa kecil saya memang seperti itu.

***

May 26, 2015

#15 Mei untuk Maret: Sempurna

Maret, ini adalah luka di jari telunjukku yang kesembilan dari tiga bulan pernikahan kita. Pisau ini tidak salah. Dia membantuku, hanya aku yang tak bisa mengendalikannya dengan terarah. Mungkin aku mengantuk atau terlalu lelah. Aku harap kau tak marah. Dari aliran darah yang mengalir di sela-sela potongan kentang untukmu, aku teteskan satu pada kaldu sup itu. Maaf, ternyata belum cukup, ada air mata yang tak sengaja bercampur tanpa kutahu. 

Dan, ini sempurna.

"Apa kau suka?"

"Ini sangat lezat, Mei. Terima kasih. Ini sup terbaik yang pernah kunikmati"

Aku bisa melihat sinar kejujuran dari matamu. Kau benar-benar menyukai sup itu, Maret. Menyaksikan hal itu membuatku bisa meledak. Meledak karena bahagia. Aku ingin terus membahagiakanmu, Maret, dengan apapun yang aku punya. 

"Aku menyelipkan bagian diriku di sup itu"

"Pantas saja lezat, pasti ada cinta di setiap hidanganmu"

Maret tidak mengerti. Dia masih makan dengan lahap sambil sesekali mengelus kepalaku.

"Lain kali, akan aku selipkan hatiku di situ"


Maret masih tidak mengerti. Dia terlalu lugu untuk kebaikan istrinya yang tak sederhana.


Gambar diambil dari sini.