January 27, 2015

Surat Untuk Una

Dear Una,

Dari ratusan kilometer yang merintangi, dipandu rintik hujan dan denting angin yang terlalu damai untuk hitungan pagi hari musim semi, seketika aku teringat padamu, yang kini bukan menjadi gadis kecilku lagi. Ada perasaan getir  yang kulihat pada bayangan dirimu, Una, yang ku tak tahu itu apa tapi aku yakin bahwa kau pasti bisa mengatasinya. Karena pada akhirnya, kita berdua tahu, cara terbaik untuk menyelesaikan hal yang tidak kita sukai adalah dengan menghadapinya. Semoga surat ini dapat meredam kegundahanmu yang selalu haus pengertian dari orang-orang yang tak pernah semudah itu bisa kau ajak bicara karena kompleksitas berpikir yang kau punya. Itu anugerahmu, Una. Ingatlah, kau masih punya aku.

Una, berterimakasihlah pada waktu. Karena aku tahu, menjadi dewasa adalah impianmu. Setiap orang ingin kembali ke masa kanak-kanak yang penuh lugu, tapi tidak denganmu. Kau selalu bilang, bahwa manusia dewasa punya keistimewaan, yakni mereka hidup dengan pilihan, sesuatu yang jarang kau dapat di masa kecilmu. Mengertilah bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa kau pilih dalam kehidupanmu, seperti siapa orang tuamu dan bagaimana mereka mendidikmu. Kau selalu bertanya mengapa ada yang lebih penakut daripada yang lain dan mengapa kau dididik seperti itu. Apa kau masih benci dengan beberapa kepribadianmu, yang tidak lebih berani daripada yang lain, yang lebih suka menyendiri daripada merangkai temu? Berbahagialah Una, karena saat ini kau bisa memilih apa yang harus kau perbaiki dari dirimu. Percayalah, bahwa orang tuamu pun telah berusaha membesarkanmu sebaik mungkin. Kini, sisanya tergantung usahamu.

Una, dalam perjalananmu, kau pun telah menjadi saksi bahwa orang yang pernah mencintaimu atau pernah kau cintai, entah dalam diam atau dalam air mata di tidurmu, mereka semua pada akhirnya mengakhiri labuhannya dengan orang yang tak pernah kau duga di masa lalumu. Pada akhirnya, mereka semua telah menemukan jodohnya Una, sama seperti kau yang telah menemukan rumahmu. Akuilah bahwa kau sedikit cemburu karena mulai kehilangan pengagummu. Masa itu sudah lewat Una, kau harus membangun hidupmu dan belajar mencintai orang yang kini tulus menjagamu. Aku mohon padamu.

Dan terakhir Una, di balik luka hatimu dan teriakan feminismu tentang dunia yang fanatik terhadap nilai-nilai patriarki, ada hal-hal yang tidak bisa kau ubah tentang takdir alamiahmu. Belajarlah menerima itu Una, karena keadilan yang hakiki hanya kau dapat dengan berlaku adil pada hak dan kewajibanmu. Di balik tanggung jawab yang tak pernah kau duga sebelumnya, percayalah kau tetap akan menjadi wanita hebat. Ada banyak hal yang kau keluhkan, aku bisa menebaknya dari sini, sekarang pilihanmu lah untuk mengubah itu: mengubah keadaan atau mengubah egomu yang sekeras ombak menghantam batu.

Di balik semua itu, aku tidak khawatir. Karena pada akhirnya, kita berdua tahu, cara terbaik untuk menyelesaikan hal yang tidak kita sukai adalah dengan menghadapinya. Dan kau sangat ahli dalam hal itu.

January 25, 2015

Caffeine Talk

It has never been on my list that caffeine talk can be more comforting than pillow talk. As a non-caffeine person, drinking coffee at the wrong time and wrong portion can hurt, literally - and keep me awake all night.

It was Saturday night. I always love the idea of having a date especially dating after getting married. I don't need to worry about what time I should go home and how fast time runs to let us separate again.

It was 10 p.m. We stopped by in coffee shop, he ordered ice coffee and I chose latte. I had to prepare that I couldn't sleep after this cup. But the rain dropped so heavily. We could not go home and needed to stay longer.

The caffeine started working. He asked me about something that we had never considered to talk about in our relationship - it was public finance and macroeconomy. I was shocked because it was the date and he kept asking me a lot of things that trouble his mind and he wanted to know. I loved the discussion. It was warm.

Both of us have similarity, we like observing people. We kept talking and talking..... until 2 a.m. and the rain stopped to fall.

It was one of the deepest talks that we've ever had. And I don't mind to repeat that caffeine talk more and more and more :)

January 16, 2015

Nocturnal

There is an addiction of staying awake at night doing your assignments late and playing around with your mind. Because you know, night has beauty of its silence, whereas afternoon is confusing and morning is always in hurry. Sometimes, in a minute, you are sad - being punched by headache because you push yourself too hard to make sure everything well-organized and neat.

You are sad.

Tired.

But you know that you are not alone. You have someone to hug at night. That hug, you always need that hug. 

It is peace. Energy. Another addiction. 

You are fine. 

:)

January 15, 2015

Menyapa 2015!

Hello! Tulisan yang sangat terlambat untuk menyapa 2015 ya >.<

Saya berjanji untuk menulis lagi setelah proposal penelitian saya selesai. Tapi ternyata ada yang lebih penting dari "selesai", yakni tentang "saya tertarik dan saya ingin benar-benar melanjutkannya". Ini yang tidak mudah. Semoga seiring berjalannya waktu dan hobi melamun saya yang tak habis-habisnya, ada ide baru yang bisa muncul. Saya sadar saya juga kehilangan banyak waktu membaca. Bukan kehilangan mungkin, tapi di sela-sela kewajiban, saya yang tidak meluangkan. Buku baru apa yang sudah saya baca di tahun 2015? :(

seorang sahabat memberi tantangan ini :)

December 22, 2014

Patahan #84

"Apa yang paling kau inginkan saat ini?"


"Aku hanya ingin dipeluk ibu"

.
.
.

Selamat Hari Ibu. Aku memikirkanmu sepanjang waktu, berdamai dengan rindu.

December 20, 2014

Challenge

I think I don't need bungee jumping or tight competition to challenge myself. Life is just more challenging these days. The hardest is battling with ego to make everything balanced such as between achieving my own targets - yes, I really don't understand why a forgetful and shy person like me could be, and doing the housework with my own hands from cleaning, cooking, shopping, but staying look good. It is so challenging.

I learn a lot of things after getting married, it is love - that means giving the best that you can do, and making the priority of your loved ones. My skill of cooking and baking is improved. How nice that I can forgive the bad day by cooking good things. I prefer going to traditional markets to department stores. I love staying at home, making sure everything alright, browsing about new recipes, and forcing myself to stay focusing on my commitment: one day one review - which honestly it is so hard to do when I can't fight for willingness to allocate my rest time to read and write, or practice my English or writing which kind of messed up. I think being deadliner is never unlocked.

The best thing is, nowadays, I feel so productive in spending time. Holiday is not a nightmare anymore when I don't go home or when I just sleep all day and being antisocial in my room. Holiday is a moment when I can be a better woman for myself and for my husband by improving my skill of nurturing and multitasking. I can feel it truly in my heart then I feel so blessed. I am not sure I can experience this anymore next year when I go back to work.

Ego is the enemy of November people, and perfectionism is the sophisticated killer of happiness. Time flies and sometimes you have to come out from your comfort zone, and become rational of your targets. I realize that trying to make everything balanced is hard, but at least, knowing the priority and changing the habits will make you happier - it will bring you go to something worth it to fight for, not something that feels empty and lonely when you have reached it.

Happiness changes its pattern when you've been growing older.

:)